Menilik Fenomena Joki Tugas Di Kalangan Mahasiswa
Tugas numpuk, tapi sibuk organisasi, sakit, atau malas? Tenang, ada pekerjaan kurang terpuji yang bisa membantu. Pekerjaan itu disebut joki tugas. Menurut definisi penulis, joki tugas merupakan praktik ilegal, tercela, licik, dan ungkapan buruk lainnya di mana “konsumen” akan membayar penyedia jasa untuk mengerjakan tugas akademiknya. Joki sendiri bukan fenomena baru dan banyak bentuknya. Jadi, apakah joki tugas itu salah?
Pelaku joki tugas sendiri biasanya bukan sembarang
orang. Alasan penyedia joki tugas melakukan pekerjaan extreme sport ini
bervariasi, dari memanfaatkan kepintaran, gabut, atau paling sering ya alasan
ekonomi. Alunan merdu token listrik, kriuk mi instan, dan otak yang cemerlang
cenderung jadi faktor bagi teman-teman yang kurang beruntung secara ekonomi
untuk mengiyakan joki tugas. Namun, yang terpenting dalam menjadi pelaku joki
tugas ialah ketekunan. Joki tugas bukanlah pekerjaan mudah. Kebanyakan pelaku
joki tugas masih menempuh pendidikan dengan beragam tugas yang mereka punya.
Jika tidak pintar membagi waktu, maka tugas joki keteteran dan tanggung jawab
akademik pribadi terbengkalai.
Dalam skripsi berjudul Bentuk Kecurangan Akademik
di Kalangan Mahasiswa, Diana (2019) mendefinisikan kecurangan akademik sebagai
suatu tindakan tidak jujur yang dilakukan seseorang dalam bidang akademik guna
mendapatkan hasil akhir yang baik sesuai dengan yang ia inginkan. Tindakan
tidak jujur tersebut berupa menyontek, plagiasi, menjiplak, menyuap, untuk mendapatkan
hasil memuaskan dalam karyanya dan mengaku bahwa karya tersebut adalah karyanya
sendiri. Walaupun sudah ada persetujuan antara penyedia joki tugas dengan
pemakai jasa, tetap saja joki tugas merupakan bentuk kecurangan akademik.
Tujuan sekolah atau kuliah yang awalnya untuk belajar malah digunakan sebagai ajang
penipuan.
Joki tugas biasanya diawali dari lingkungan
pertemanan. Teman yang sibuk akan meminta teman yang luang dan dinilai mampu
untuk mengerjakan tugasnya. Setelah mendapat konsumen pertama. Biasanya
penyedia joki tugas akan memasarkan dirinya dari mulut ke mulut. Jika ingin
lebih ekstrem lagi, di setiap media sosial terdapat komunitas tersendiri berisi
“para penjoki”. Penyedia joki tugas akan membuat akun dan mulai menjajakan
“dagangannya”. Sesungguhnya di masa sekarang ini, apalagi saat pembelajaran
daring, joki tugas bukan hal yang tabu lagi. Dilihat dari akun penjaja jasa
joki tugas di media sosial dengan ribuan pengikut, menunjukkan betapa normal
“kecurangan akademik” ini beredar.
Jasa yang dijajakan pun bervariasi, mulai dari
joki infografik, joki makalah, joki halaman web, sampai level tertinggi yaitu
joki skripsi atau joki ujian. Apa yang membuat mereka jadi level tertinggi?
Konsekuensinya. Sekali ketahuan, habis sudah nasib penyedia joki dan pengguna.
Sedikit yang berani melakukan joki skripsi atau joki ujian. Selain konsekuensi,
sering terjadi perdebatan internal moralitas dari penyedia joki itu sendiri.
Bukankah salah jika gelar atau nilai yang diperjuangkan dan didambakan banyak
orang dan seharusnya diperjuangkan oleh orang terkait malah dikerjakan oleh
penyedia joki? Namun, bukankah selama ini juga yang dilakukan oleh penyedia
joki salah? Apa bedanya joki tugas akademik biasa dengan joki skripsi? Bukankah
sama saja dari joki tugas kecil-kecil itu yang nilainya A atau A- itu yang akan
dicetak dalam ijazah?
Referensi
Tisa Indriani,
Diana. (2019). Bentuk Kecurangan Akademik di Kalangan Mahasiswa. Skripsi.
Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
Comments
Post a Comment